KITASULTRA.COM | KONAWE – Menjelang pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2026 di Kabupaten Konawe, sejumlah pelaku UMKM menyuarakan keberatan terhadap besaran tarif sewa lapak yang dinilai terlalu tinggi.
Para pedagang mengungkapkan bahwa biaya sewa lapak yang semula sebesar Rp300 ribu kini naik menjadi Rp600 ribu per brand. Kenaikan tersebut dinilai cukup memberatkan karena berlangsung di tengah kondisi usaha yang masih menghadapi berbagai tantangan.
Meski optimistis kegiatan MTQ akan menghadirkan peluang ekonomi melalui meningkatnya jumlah pengunjung, para pelaku UMKM tetap berharap adanya kebijakan yang lebih berpihak kepada usaha kecil.
“Kami tentu senang karena kegiatan MTQ bisa ramai dan mendatangkan pembeli. Tapi kalau biaya sewanya terlalu tinggi, keuntungan yang didapat belum tentu sebanding,” ungkap salah seorang pedagang.
Menurut para pelaku usaha, selain biaya sewa lapak, mereka juga harus mempersiapkan modal tambahan untuk stok barang, perlengkapan usaha, serta biaya operasional lainnya selama kegiatan berlangsung.
Mereka berharap pihak terkait dapat mengevaluasi kembali tarif yang diberlakukan sehingga pelaku UMKM lokal memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berpartisipasi dan memperoleh manfaat ekonomi dari perhelatan MTQ tingkat provinsi tersebut.
Di sisi lain, Ketua Panitia MTQ Sultra 2026, Marjuni Ma’mir, menyatakan dirinya belum mengetahui informasi terkait besaran biaya sewa lapak yang dikeluhkan para pedagang.
“Saya tidak tahu. Nanti dikonfirmasi ke pengelolanya langsung,” katanya saat dikonfirmasi wartawan melalui aplikasi WhatsApp.
Laporan: Redaksi












