DaerahEkobisHeadlineSosial Budaya

Inflasi Konawe Juni 2026 Capai 1 Persen, Harga Sawi Hijau hingga BBM Jadi Penyumbang Utama

0
×

Inflasi Konawe Juni 2026 Capai 1 Persen, Harga Sawi Hijau hingga BBM Jadi Penyumbang Utama

Sebarkan artikel ini
Sekda Konawe Dr. Ferdinand, SP, MH

KITASULTRA.COM | KONAWE Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Konawe mencatat Kabupaten Konawe mengalami inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 1,00 persen pada Juni 2026. Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) tercatat 2,12 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) mencapai 3,77 persen.

Data tersebut tertuang dalam Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Kabupaten Konawe yang dirilis pada 1 Juli 2026.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Konawe, Dr. Ferdinand, SP., MH, mengatakan bahwa perkembangan inflasi di Konawe masih dipengaruhi oleh kenaikan harga sejumlah komoditas pangan dan sektor transportasi yang memberikan andil cukup besar terhadap pembentukan inflasi selama Juni 2026.

Berdasarkan data BPS, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kabupaten Konawe pada Juni 2026 tercatat sebesar 113,78.

Secara bulanan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil 0,68 persen. Kenaikan harga pada kelompok ini terutama dipicu oleh meningkatnya harga sawi hijau, ikan layang/ikan benggol, minyak goreng, terong, ikan cakalang/ikan sisik, pisang, kol putih/kubis, cabai rawit, dan bawang merah.

Selain itu, kelompok transportasi turut memberikan andil inflasi sebesar 0,22 persen, yang didominasi oleh kenaikan harga bensin.

Secara keseluruhan, terdapat sepuluh komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar secara bulanan, yakni sawi hijau, ikan layang/ikan benggol, bensin, minyak goreng, terong, ikan cakalang/ikan sisik, pisang, kol putih/kubis, cabai rawit, serta bawang merah.

Di sisi lain, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga atau deflasi, di antaranya tomat, bayam, daun singkong, kangkung, kelapa, sagu, telur ayam ras, tempe, emas perhiasan, dan daun kacang panjang muda.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year), inflasi Konawe tercatat sebesar 2,12 persen.

Penyumbang utama inflasi tahunan masih berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,86 persen, disusul kelompok transportasi sebesar 0,52 persen.

Komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi tahunan antara lain minyak goreng, tomat, ikan layang/ikan benggol, sigaret kretek mesin (SKM), sawi hijau, pisang, kue basah, bensin, telepon seluler, serta ikan bandeng/ikan bolu.

Adapun komoditas yang menahan laju inflasi atau mengalami deflasi tahunan meliputi ikan mujair, ikan gabus, beras, daun singkong, sagu, terong, kopi bubuk, kacang panjang, tahu mentah, dan kelapa.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan tertinggi terjadi pada kelompok transportasi sebesar 4,55 persen, disusul kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 3,42 persen. Sementara kelompok kesehatan justru mengalami deflasi sebesar 0,44 persen.

Jika dibandingkan dengan daerah lain di Sulawesi Tenggara, Kabupaten Konawe mencatat inflasi tahunan paling rendah, yakni 2,12 persen. Sebaliknya, inflasi tertinggi terjadi di Kota Baubau sebesar 5,60 persen, disusul Kabupaten Kolaka sebesar 5,33 persen dan Kota Kendari sebesar 5,14 persen.

Secara nasional, inflasi tahunan pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34 persen, sedangkan Provinsi Sulawesi Tenggara mencapai 4,68 persen.

Sekda Konawe, Dr. Ferdinand, SP., MH, mengungkapkan bahwa data inflasi tersebut menjadi acuan penting bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pengendalian harga, menjaga stabilitas pasokan kebutuhan pokok, serta memperkuat koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) agar daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah dinamika harga berbagai komoditas.

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!