KITASULTRA.COM | KONAWE – Dugaan kontaminasi makanan yang dikonsumsi siswa SMAN 20 Konawe kini menjadi perhatian Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe setelah hasil pemeriksaan laboratorium menemukan bakteri E. coli pada sampel kuah dan pentol bakso.
Pemeriksaan dilakukan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Dinkes Konawe terhadap dua sampel makanan yang diambil dari dapur SPPG Tongauna-Asao dan SMAN 20 Konawe.
Kepala Dinkes Konawe, Yones, SE, MM mengatakan hasil pemeriksaan menunjukkan perbedaan antara kedua sampel tersebut. Sampel makanan yang diambil langsung dari dapur SPPG Tongauna-Asao tidak menunjukkan adanya bakteri.
Sebaliknya, sampel makanan yang diambil di SMAN 20 Konawe mengandung bakteri coliform dan E. coli dalam jumlah tertentu.
“Dua sampel makanan yang diuji, satu dari dapur SPPG Tongauna-Asao, satu dari sekolah. Hasilnya sampel makanan dari dapur SPPG Tongauna-Asao nol bakteri,” ujar Yones.
Ia merinci, pada sampel kuah bakso ditemukan 3.500 bakteri coliform dan 150 E. coli. Sementara pada pentol bakso ditemukan 3.000 bakteri coliform dan 140 E. coli.
Menurut Yones, hasil pemeriksaan tersebut menjadi salah satu dasar evaluasi terhadap makanan yang dikonsumsi para siswa yang sebelumnya mengalami sejumlah keluhan kesehatan.
“Menurut hasil pemeriksaan, penyebabnya dari kuah dan pentol bakso yang sudah terkontaminasi bakteri,” jelasnya.
Yones mengatakan, paparan bakteri tersebut dapat menimbulkan berbagai reaksi pada tubuh. Keluhan yang muncul dapat berupa gatal, mual, pusing maupun gejala lainnya.
Meski demikian, Dinkes Konawe masih mencermati kemungkinan terjadinya kontaminasi setelah makanan keluar dari dapur SPPG. Proses distribusi dan penyimpanan di sekolah menjadi salah satu aspek yang perlu dievaluasi.
Yones menyoroti tidak tercantumnya label dan batas waktu konsumsi pada wadah makanan yang diantarkan. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu diperhatikan untuk memastikan makanan dikonsumsi dalam rentang waktu yang aman.
“Mungkin makanan ini terpapar saat diantar, karena di sekolah ada ruangan tempat makanan ini disimpan. Mungkin saja terpapar sinar matahari, kelembaban ruangan atau sudah lewat waktu konsumsinya,” ungkapnya.
Ia menambahkan, dugaan tersebut juga perlu dibandingkan dengan kondisi penerima makanan pada jenjang pendidikan lain yang tidak mengalami gejala serupa.
“Karena siswa kita di SMP, SD bahkan balita tidak mengalami gejala yang terjadi di SMA,” katanya.
Dinkes Konawe selanjutnya meminta seluruh SPPG di wilayah tersebut memastikan seluruh tahapan penyediaan makanan berjalan sesuai SOP yang ditetapkan BGN.
Yones menegaskan, kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi agar standar keamanan pangan benar-benar diterapkan, mulai dari proses pengolahan hingga makanan diterima dan dikonsumsi oleh masyarakat penerima manfaat.
“Kita tidak inginkan hal seperti ini terulang. Oleh karena itu, saya meminta agar pihak SPPG maupun BGN agar SOP benar-benar dilaksanakan. Apapun hasilnya, pihak SPPG harus bertanggung jawab dan ini menjadi evaluasi bagi pihak SPPG beserta seluruh jajaran di dalamnya,” tegasnya.
Laporan: Redaksi






